Bisnis

Eksekusi Adalah Kunci Kesuksesan

Team Ralalii

UGNews.co.id – Tidak dapat kita pungkiri bahwa pandangan menjadi karyawan tetap dengan segala macam tunjangan dan kepastian masih menjadi sebuah dogma di Indonesia. Dalam konteks pendidikan di berbagai sekolah bisnis dan ekonomi, para generasi perintis Indonesia belajar dan terus belajar mengenai formulasi strategi dan perencanaan fungsional.

Hal itu tidak ada salahnya dan bahkan sangat benar. Jika kita gagal merencanakan, berarti kita sudah merencanakan untuk gagal. Dalam perencanaan yang baik, tersusun konten yang berbasis pada konsep, data, dan informasi yang kuat. Dalam perencanaan-perencanaan tersebut, kita belajar mengenai cara terus melaju dalam industri kompetitif, membuat rencana pemasaran, strategi finansial, dan masih banyak lagi.

Namun, berapa banyak pelajaran yang berurusan secara eksklusif dengan eksekusi dan implementasi? Umumnya tidak ada atau sedikit. Dari pelajaran yang berurusan dengan eksekusi dan implementasi tersebut, lebih sedikit lagi yang dilakukan dengan cara yang penuh dedikasi, terelaborasi, dan memiliki tujuan jelas.

Penekanan pelajaran bisnis di sekolah jelas ada pada pekerjaan konseptual, umumnya perencanaan dan bukan melakukan. Kalau mau mencari sekolah bisnis yang mendedikasikan sebagian silabusnya pada eksekusi dan implementasi bisnis tentu ada, namun jumlahnya tidak signifikan.

Akibatnya juga dapat diduga, antara lain para alumni yang sekedar jago membuat rencana berbasis konsep, mengetahui teori, namun takut salah, takut mengambil risiko.  Padahal jalan menuju sukses selalu lekat dengan kesalahan berulang, pengambilan risiko, dan rasa frustasi.

Joseph Aditya, CEO Ralali.com – Business-to-Business Marketplace terkemuka Indonesia bertutur, “ Saat saya memulai Ralali, ide menjadi langkah pertama. Setelah ide, kemudian disusul penajaman segmen konsumen yang dipilih, penelusuran masalah, perencanaan bisnis, model bisnis, dan riset pemasaran,”

Saat Adit ditanya lebih lanjut, “Jadi, sebenarnya sama saja dong dengan bisnis-bisnis yang lain. Mulai dari ide, segmen, model bisnis, rencana dan riset pemasaran. Lantas, apa yang membedakan dengan yang lain? Apa yang membedakan bisnis Ralali dengan bisnis lainnya sampai bisa meraih pencapaian seperti saat ini dan mendapatkan pendanaan ratusan miliar?”

Jawaban yang diberikan Aditya adalah, “Eksekusinya. Yang lain banyak yang sekedar bicara, sekedar berkhayal, dan terhenti di atas kertas. Mau ide sebagus apa pun, percuma kalau tidak ada eksekusi.” Lebih lanjut Aditya bercerita bahwa dia juga banyak mengalami kegagalan hingga kesulitan pendanaan saat menjalankan usaha. Namun dia memilih untuk kembali bangkit  dan terus maju.

Perlu diketahui bahwa selama beberapa dekade, para pakar sudah semakin menyempurnakan seni curah pendapat dan teknik berbagi ide. Para investor dan eksekutif perusahaan semakin terekspos oleh banjir ide. Bahkan kini siapa pun yang memiliki akses ke internet dapat dengan sangat mudah mendapatkan ide bisnis. Hasilnya adalah dunia sudah tidak kekurangan stok ide dan tidak lagi memerlukan diferensiasi dalam berkompetisi.

Sedangkan di sisi lain, eksekutor visioner adalah hal yang jarang ditemukan. Seorang visioner adalah individu yang dapat melihat lautan ide secara waras dan rasional, mengambil hal-hal yang diperlukan, dan mulai merajut berbagai bahan mentah serta bahan baku yang sudah diambil dalam

Pemimpin visioner tidak sekedar memiliki ide, tetapi juga memiliki visi sebagai pedoman arah ide, dengan nilai inti yang kuat, kemampuan membuat hubungan kunci yang kuat, dan mendemonstrasikan aksi-aksi inovatif. Jadi, kalau kita ingin benar-benar membawa hidup kita ke arah yang lebih baik, berhentilah sekedar membicarakan ide dan mulailah mengeksekusi!

Baca Juga GudangBang Menjawab Masalah Logistik Indonesia 

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

To Top